Kabupaten Grobogan memiliki berbagai kawasan wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi. Sebagian besar kawasan wisata di Kabupaten Grobogan merupakan keajaiban alam, termasuk kawasan lumpur Kesongo.barangkali anda akan mengernyitkan dahi,
atau mungkin langsung mencoba browsing di Google untuk mencari tahu
apakah itu Kesongo. Memang benar, Kesongo bukanlah kata yang populer di
dunia nyata maupun di dunia maya. Tapi kali ini saya akan melaporkan,
ciee melaporkan. apa tidak ada bahasa lain. Baiklah, baiklah..Saya ulang
ya, kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan wisata saya menuju
ke sebuah tempat bernama Kesongo atau Sumber Lumpur Kesongo.
Berawal dari sebuah diskusi dengan teman teman tentang Aksara Jawa,
Kerajaan Medang Kamulan, Ajisoko dan Bledug Kuwu. Ada yang meyakini
bahwa aksara Jawa diciptakan oleh Ajisoko. Tapi belum ada sumber valid
mengenai hal ini, selain cerita rakyat. Tapi intinya, saya tak pernah
menyangka bahwa ada sebuah tempat di area Kabupaten Grobogan dan
Kabupaten Blora yang mungkin terlupakan dari legenda Ajisoko tersebut.
Dari rangkaian cerita Ajisoko ada lokasi selain Bledug Kuwu.
Lokasi
tersebut adalah Kesongo. Jeng jeng K E SO N G O.Cerita segera dimulai.
Kawasan Lumpur Kesongo memiliki luas 119,1 ha, yang
terdiri dari 3 tipe habitat. Ketiga tipe tersebut adalah kawasan
semburan lumpur, kawasan rawa dan kawasan padang rumput (savanna).
Kawasan semburan lumpur merupakan kawasan yang dipenuhi oleh lumpur yang
keluar dari perut bumi, pada daerah ini tidak ada vegetasi yang bisa
hidup. goasentono.blogspot.com
Maka saya dan empat orang teman, pada 17 September 2011 mengadakan perjalanan ke Kesongo yang terletak di koordinat
7°9’20″S 111°15’13″E di
Kecamatan Gabus, kabupaten Grobogan. Waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB
ketika kendaraan yang saya kendarai berbelok ke utara memasuki jalan di
sebelah Terminal Sulursari, kemudian melewati Rel kereta api, kurang
lebih 500m di perempatan kami berbelok ke kanan. Kondisi jalan tidak
terlalu bagus. Kurang lebih 20 menit, kami tiba di kawasan Sumber Lumpur
Kesongo.
Di bawah ini merupakan kawasan di sisi selatan Sumber Lumpur Kesongo. Ada sekawanan burung Bangau Tongtong yang sedang terbang.
>

Memasuki area sumber lumpur Kesongo,
waktu menunjukkan jam 11.00 WIB, namun kondisi tidak terlalu panas,
karena memang agak mendung. Kami disambut hamparan rumput Grinting
(Cynodon dactylon)yang sangat luas. Sekawanan kerbau yang dibiarkan
secara liar untuk mencari makan. Dan yang menarik, ada sekawanan burung
Belibis yang sedang bergerombol, yang berhasil saya ambil gambar dari
kejauhan. Hal ini sekaligus membuktikan tentang informasi yang saya
dapatkan dari
website Perhutani
Kawasan kesongo juga merupakan habitat beberapa jenis
burung (aves) seperti Bangau tong-tong (leptotilos javanicus), manyar
jambul (Ploccus manyar), belibis (Dendrocygna javanica), Belibis Batu
(Dendrocygna javanica), Alap-alap capung (Microhierax frigillarius).
Kawasan rumput yang luas, burung belibis
yang sedang terbang bergerombol adalah fenomena yang menarik. Lalu
langkah kaki kami mulai memasuki fenomena yang tidak kalah eksotik,
yakni kawasan kedua dari Kesongo yaitu Kawasan Semburan Lumpur. Saya
agak merasa aneh ketika mendengar suara berdesis di sekitar saya.
Ternyata suara tersebut berasal dari letupan lumpur yang keluar dari
dalam tanah. Memang benar saya melihat sebuah tempat yang benar benar
berbeda dengan kawasan sebelumnya. Tampak di kanan kiri saya, bekas
bekas letupan lumpur yang mirip miniatur gunung berapi.
Jumlahnya tak bisa saya hitung. Dan yang luar biasa, letupan lumpur
tersebut masih aktif, mulai dari yang kecil sampai yang agak besar.
Sekilas memang mirip dengan fenomena lumpur di Bledug Kuwu. Yang
membedakan letusannya memang tidak sebesar Bledug kuwu. Tapi justru
inilah yang menarik, letupan di Kesongo berpindah-pindah dari tempat
satu ke tempat lain, sehingga meninggalkan banyak sekali bukit bukit
kecil, seperti tampak pada gambar di bawah ini.
Letupan dari Lumpur Kesongo
Letupan dari aktivitas lumpur di kesongo
Gambar diatas merupakan aktivitas
letupan lumpur yang terjadi di Kesongo. Menurut penduduk sekitar,
biasanya juga ada ledakan besar yang disebut dengan Kurdo.
Sedangkan gambar di atas merupakan
kawasan rawa, dimana terdapat rumput Mlingi, tempat minum sekawanan
burung burung dan juga hewan ternak seperti kerbau.
Kami beristirahat sejenak di sebuah
Gardu yang dipenuhi gambar Semar. Bagi saya, Kesongo memang merupakan
sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi. Menarik dari segi cerita
atau legenda, konon disitulah tempat Ajisoko menghukum Joko Linglung.
Selain itu Kesongo merupakan sebuah kawasan ekologi yang juga menarik
untuk diketahui dan dikunjungi.
Setelah beristirahat kami meninggalkan kawasan Kesongo. Sebuah tempat
wisata di Kabupaten Grobogan yang selama ini terlupakan. Akses masuk
yang cukup sulit mungkin menjadi penghambat mengapa jarang orang yang
berkunjung ke tempat tersebut.